Rumah Presiden Jokowi – Dari Digusur, Ngontrak, Hingga Bergaya Klasik

Kesederhanaan dari Presiden RI Joko Widodo bukanlah isapan jempol belaka, melainkan sudah terpatri sebagai bagian dari gaya hidup dan budaya sebagai masyarakat Jawa yang beradat.

Terlebih lagi, rumahnya yang sekarang ia tempati sebagai seorang presiden masihlah bergaya klasik dan tak menuangkan unsur megah yang berlebih-lebihan.

Setiap desain dan sudut bangunannya memiliki warna seni dan artistik penuh makna, sehingga bisa kita jadikan sebagai inspirasi untuk tetap hidup simple sekalipun sudah menjadi orang nomor satu 1 di Indonesia.

Namun faktanya, rumah presiden Jokowi dulunya tak langsung tiba-tiba seperti sekarang. Ada cerita dan perjuangan sebelum sampai di sebuah kesuksesannya di dunia politik.

Dari Digusur Sampai Ngontrak

Jokowi kecil pernah mengalami masa sulit ketika rumahnya digusur yang berlokasi di pinggir kali. Kala itu Jokowi yang masih kecil dan bersekolah, mengharuskan ia melanjutkan hidup dan tinggal bersama sang Tante.

Beberapa tahun kemudian, Jokowi kemudian mengontrak di sebuah rumah kecil yang hanya berisi 2 kamar tidur dan 1 kamar mandi.

Namun berkat kegigihannya dalam bekerja, Jokowi berhasil membeli rumah tersebut dengan harga 25 ribu per meternya.

Rumah Jokowi Sebagai Presiden

Jokowi sendiri enggan mengekspos masa sulitnya saat masa kecil dulu, sehingga cerita pun bisa langsung di-skip saat beliau sudah menjadi orang nomor 1 di Indonesia.

Namun sebagai seorang presiden, gaya hidup Jokowi yang penuh kesederhanaan masih dibawa hingga sampai sekarang.

Misalnya, lingkungan rumahnya yang begitu asri dan banyak ditumbuhi oleh tanaman hijau. Belum lagi ada binatang peliharaan berupa ayam yang menghiasi pekarangan rumahnya tersebut.

Untuk bagian interiornya sendiri, Jokowi lebih memilih untuk tidak mengisinya dengan terlalu banyak furnitur.

Sebagai gantinya, di dalam rumahnya terdapat banyak sekali barang-barang klasik yang memiliki nilai jual tinggi.

Sebagian besar perabotannya terbuat dari kayu jati dengan corak dan pahatan tradisional bernuansa artistik Jawa kuno.

Cita rasanya tersebut mungkin hadir dari sifat kepemimpinannya yang penuh dengan rasa bijaksana, seperti halnya raja-raja Indonesia di zaman dulu.